Aku punya sedikit cerita antik
Tentang sebuah negeri yang penuh intrik
Tentang sebuah negeri yang kini tak lagi asik
Tentang sebuah negeri yang kini sudah tak lagi cantik
Ya,
Tentang sebuah kisah negeriku
Yang kini sudah tak lagi seksi dan menarik
Negeriku,
Kini mulai gelisah
Juga resah terasa mulai gerah
Negeriku tak lagi sejuk
Hutan-hutanku kini merah tak lagi basah
Pohon-pohonku telah banyak punah
Udaraku tercemar tak lagi ramah
Alamku kini gemar muntah tak lagi segan untuk marah
Negeriku,
Sudah tak lagi nyaman
Tak lagi tentram
Bak damai alamnya desa
Ketika datang sunyinya malam
Negeriku,
Sudah tak lagi indah
Tak lagi cerah
Layaknya alami panorama di bukit pelangi
Negeriku,
Kini kerap menjerit
Mungkin kumatnya penyakit
Terasa semakin membelit
Penyakit-penyakit terus meradang
Tak bosan menyerang kian membelit
Penyakit tradisi
Aku sebut penyakit ini adalah munafik
Yang kian mengikat terus saja melilit
Terkurung dalam keterpurukan
Masanya-masanya yang teramat sulit untuk bisa bangkit
Keadaan-keadaannya mengkhawatirkan
Keadaan-keadaannya menyedihkan
Penyakit yang diturun-temurunkan
Meluntakan jutaan jiwa-jiwa kaum jelata
Penyakit bedebah yang semakin mewabah
Semakin hari semakin serakah
Terlena kekuasaan memabukkan
Terbuai keasyikan
Mengejar nyanyian ribuan setan
Mereka benar
Bangsat !
Keparat !
Seakan tak pernah berbuat
Bahkan sedikit pun tak mau melihat
Sakitnya luka yang kian me nga-nga
Masih tercium nyengat aroma amisnya nanah
Serapah !
Haram jadah !
Semakin hari kian berkarat
Hilang arah dan tujuannya
Terlunta jiwanya, terlunta raganya
Terkapar tidak berdaya
Ingin bangkit, berontak untuk protes ketidakadilan ?
Hanya sebuah ke-sia-sia-an
Suara mereka tak pernah didengar
Namun,
Aku mendengar kawan
Aku mendengar jeritannya
Jeritan yang hingar menggelegar
Melebihi ganas bak halilintar
Panas menyambar
Aku mendengar kawan
Dengus nafasnya
Menikam begitu dalam
Datang menghujam nurani
Aku tak kuat kawan
Aku tak kuat mendengar jeritan-jeritan itu
Dengusan nafas-nafasnya
Jelas menyengat aroma penderitan
Sungguh,
Lagi-lagi aku tak kuat kawan
Aku tak kuat mendengarnya
Aku tak mau lagi mendengarnya
Apa benar, nurani tuan-tuan di ngeri ini kini sudah mati ?
Apakah benar, wakil-wakil rakyatnya
Sudah tidak ada lagi yang mengutamakan,
Tentang keadilan dan kebenaran untuk rakyat-rakyatnya ?
Apa mungkin benar, penguasa-penguasanya telah dibutakan harta, tahta juga wanita ?
Sehingga, tidak ada lagi yang perduli tentang ter-rampasnya hak-hak kaum kecil yang tertindas ?
Atau mungkin benar, negeri ini hanya menghasilkan orang-orang bodoh dan serakah ?
Berhati busuk !
Berjiwa pengecut ?
Atau mungkin, benar ini adalah sebuah dosa turunan
warisan dari nenek moyang ?
Atau juga, ini yang disebut sebuah kutukan Tuhan ?
Atau mungkin juga, ini pertanda kawan !
Tuhan, seisi Alam-Nya
Telah murka tentang kerakusan
Entahlah,
Aku tak mengerti
Memang aku tak mau mengerti
Tapi akan kucoba sedikit memahami
Terserahlah !
Ya,
Ini cerita singkatku
Tentang salah satu
Sisi ngerinya negeriku
Sayang,
Negeriku negeri yang malang
Negeri yang diambang gamang
Kerap dicaci, juga dimaki
Terkadang sedikit dipuji
Sesama penghuni-penghuninya sendiri
Namun,
Walaupun begitu
Aku sangat cinta negeri ini
Aku sangat sayang negeri ini
Aku teramat mencintai, menyanyangi negeri ini
Sebab disinilah,
Tanah aku berpijak
Disinilah tanah aku berlatih dan bergerak
Disinilah tanah aku tertatih
Merangkak belajar untuk jalan dan berlari
Sebab disinilah,
Tanah air tempat aku lahir
Tanah aku tumbuh dibesarkan
Ya,
Disinilah di Negeriku
I N D O N E S I A . . . ! ! !
•Untuk Kita Renungkan•
Karya/Penulis:
Teuku M. Hersa Angga Nyovonsa
Pengurus Pusat FBI (Fans Berat Iwan Fals) Indonesia
Cakung, Jakarta - Timur
Facebook: Hersa Angga II