FBI (Fans Berat Iwan Fals)
Jumat, 23 Maret 2012
1 Liter Bensin Cukup Buat Bakar Rumah Kami
Apa salah kami….
Apa Dosa kami Tuan…??
Kami hanyalah kaum kusam yang selalu mengalah dan dibodohi oleh Kalian walau janji-janji politik Tuan-tuan telah Memaksa kami untuk memilih Tuan……..
Kini setelah Tuan Duduk Diatas Sana kenapa Tuan seketika Lupa dengan kami….
Kami Hanya bisa iri melihat tuan menari-nari diatas penderitaan kami…..Tuan Telah Merampas Hak-Hak Kami Dan menelanjangi Nurani Kami….
Tahukah Tuan
1 liter bensin itu sudah lebih dari cukup untuk membakar rumah kami…
Naikan BBM Atau Kami Akan Mati Kelaparan…….
Kamis, 22 Maret 2012
FBI (Fans Berat Iwan Fals)
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Penyanyi legendaris Indonesia, Iwan Fals, dipastikan akan kembali menghibur fans nya di Makassar.
Dalam rangkaian pentas seni 2012 SMA Negeri 2 Makassar bertajuk live our inspiration pada 21 April 2012 mendatang di Celebes Convention Centre, Jl. H.M Dg Patompo, Iwan akan manggung.
Iwan fals akan ikut memeriahkan program hijau lingkungan bersama siswa-siswi SMA Negeri 2 Makassar, seperti penanaman bibit pohon, penyuluhan narkoba, kontes musisi jalanan, dan donor darah.
Lewat lagu-lagunya yang memotret suasana sosial kehidupan Indonesia pertunjukan Iwan Fals kali ini akan menjadi suguhan spektakuler terutama bagi OI(sebutan untuk fans Iwan Fals) Makassar, Jelas Ketua Panitia Pensi SMADA 2012, Marie Muhammad.
Untuk tiket dibanderol dengan harga Presale 21-30 Maret seharga Rp.45.000 dan ribuan pengunjung ditargetkan akan memenuhi CCC dengan pengamanan yang ketat.........
Kamis, 19 Januari 2012
Indonesia Kemerdekaanmu dalam Cengkeraman Setan
Indonesia………
Dalam sesaknya derita rakyatmu engkau berkecamuk mencoba tabahkan beratnya cerita-cerita duka Rakyatmu
Indonesia…….
Namamu begitu besar untuk dunia dengar….
Walau sebenarnya banyak diantara Rakyatmu Yang mati terkapar liar
Indonesia…….
Namamu Tak Pernah Terbaca Tenang Disetiap lembaran Surat Kabar
Kemerdekaan yang Rakyat rasakan hanyalah simbol-simbol permainan para penguasa yang Yang telah dirasuki nafsu-nafsu setan.
Mereka setan yang haus akan kekuasaan
Setan yang gila akan jabatan
setan yang rakus akan uang……
setan-setan yang menjadikan indonesia selaksa hidup didalam neraka
Dalam kelamnya kisah duka Rakyat Indonesia yang semakin hitam setanpun berubah menjadi Iblis
Iblis yang tak akan pernah iba melihat Rakyatnya menangis
Iblis yang selalu Menebarkan dendam-dendam kesumat kepada Rakyat
Sedang Sang Iblis Masih bisa bercumbu liar diatas kursi Singgasananya
Merekapun lupa akan luka Rakyatnya yang semakin sakit menyayat hati..
Oh …Indonesia
Kemanakah rakyatmu yang tetap Manusia dan bukanlah Iblis seperti mereka-mereka Itu akan mengadu keluh .
Kepada siapakah Rakyatmu bisa berlindung
Dosa seperti apakah yang Rakyatmu perbuat hingga Rakyatmu harus menanggung sendiri derita hidup yang tak pernah kunjung henti di Negeri sendiri.
Mungkinkah sampai nanti sampai air mata Rakyatmu berubah menjadi air mata darah
Yang resah dan akhirnya mati menunggu kejayaan Indonesia yang Rakyat impikan ternyata hanyalah sebuah khayalan dalam cengkeraman-cengkeraman setan.
Dalam sesaknya derita rakyatmu engkau berkecamuk mencoba tabahkan beratnya cerita-cerita duka Rakyatmu
Indonesia…….
Namamu begitu besar untuk dunia dengar….
Walau sebenarnya banyak diantara Rakyatmu Yang mati terkapar liar
Indonesia…….
Namamu Tak Pernah Terbaca Tenang Disetiap lembaran Surat Kabar
Kemerdekaan yang Rakyat rasakan hanyalah simbol-simbol permainan para penguasa yang Yang telah dirasuki nafsu-nafsu setan.
Mereka setan yang haus akan kekuasaan
Setan yang gila akan jabatan
setan yang rakus akan uang……
setan-setan yang menjadikan indonesia selaksa hidup didalam neraka
Dalam kelamnya kisah duka Rakyat Indonesia yang semakin hitam setanpun berubah menjadi Iblis
Iblis yang tak akan pernah iba melihat Rakyatnya menangis
Iblis yang selalu Menebarkan dendam-dendam kesumat kepada Rakyat
Sedang Sang Iblis Masih bisa bercumbu liar diatas kursi Singgasananya
Merekapun lupa akan luka Rakyatnya yang semakin sakit menyayat hati..
Oh …Indonesia
Kemanakah rakyatmu yang tetap Manusia dan bukanlah Iblis seperti mereka-mereka Itu akan mengadu keluh .
Kepada siapakah Rakyatmu bisa berlindung
Dosa seperti apakah yang Rakyatmu perbuat hingga Rakyatmu harus menanggung sendiri derita hidup yang tak pernah kunjung henti di Negeri sendiri.
Mungkinkah sampai nanti sampai air mata Rakyatmu berubah menjadi air mata darah
Yang resah dan akhirnya mati menunggu kejayaan Indonesia yang Rakyat impikan ternyata hanyalah sebuah khayalan dalam cengkeraman-cengkeraman setan.
Rabu, 05 Oktober 2011
Celoteh
Aku punya sedikit cerita antik
Tentang sebuah negeri yang penuh intrik
Tentang sebuah negeri yang kini tak lagi asik
Tentang sebuah negeri yang kini sudah tak lagi cantik
Ya,
Tentang sebuah kisah negeriku
Yang kini sudah tak lagi seksi dan menarik
Negeriku,
Kini mulai gelisah
Juga resah terasa mulai gerah
Negeriku tak lagi sejuk
Hutan-hutanku kini merah tak lagi basah
Pohon-pohonku telah banyak punah
Udaraku tercemar tak lagi ramah
Alamku kini gemar muntah tak lagi segan untuk marah
Negeriku,
Sudah tak lagi nyaman
Tak lagi tentram
Bak damai alamnya desa
Ketika datang sunyinya malam
Negeriku,
Sudah tak lagi indah
Tak lagi cerah
Layaknya alami panorama di bukit pelangi
Negeriku,
Kini kerap menjerit
Mungkin kumatnya penyakit
Terasa semakin membelit
Penyakit-penyakit terus meradang
Tak bosan menyerang kian membelit
Penyakit tradisi
Aku sebut penyakit ini adalah munafik
Yang kian mengikat terus saja melilit
Terkurung dalam keterpurukan
Masanya-masanya yang teramat sulit untuk bisa bangkit
Keadaan-keadaannya mengkhawatirkan
Keadaan-keadaannya menyedihkan
Penyakit yang diturun-temurunkan
Meluntakan jutaan jiwa-jiwa kaum jelata
Penyakit bedebah yang semakin mewabah
Semakin hari semakin serakah
Terlena kekuasaan memabukkan
Terbuai keasyikan
Mengejar nyanyian ribuan setan
Mereka benar
Bangsat !
Keparat !
Seakan tak pernah berbuat
Bahkan sedikit pun tak mau melihat
Sakitnya luka yang kian me nga-nga
Masih tercium nyengat aroma amisnya nanah
Serapah !
Haram jadah !
Semakin hari kian berkarat
Hilang arah dan tujuannya
Terlunta jiwanya, terlunta raganya
Terkapar tidak berdaya
Ingin bangkit, berontak untuk protes ketidakadilan ?
Hanya sebuah ke-sia-sia-an
Suara mereka tak pernah didengar
Namun,
Aku mendengar kawan
Aku mendengar jeritannya
Jeritan yang hingar menggelegar
Melebihi ganas bak halilintar
Panas menyambar
Aku mendengar kawan
Dengus nafasnya
Menikam begitu dalam
Datang menghujam nurani
Aku tak kuat kawan
Aku tak kuat mendengar jeritan-jeritan itu
Dengusan nafas-nafasnya
Jelas menyengat aroma penderitan
Sungguh,
Lagi-lagi aku tak kuat kawan
Aku tak kuat mendengarnya
Aku tak mau lagi mendengarnya
Apa benar, nurani tuan-tuan di ngeri ini kini sudah mati ?
Apakah benar, wakil-wakil rakyatnya
Sudah tidak ada lagi yang mengutamakan,
Tentang keadilan dan kebenaran untuk rakyat-rakyatnya ?
Apa mungkin benar, penguasa-penguasanya telah dibutakan harta, tahta juga wanita ?
Sehingga, tidak ada lagi yang perduli tentang ter-rampasnya hak-hak kaum kecil yang tertindas ?
Atau mungkin benar, negeri ini hanya menghasilkan orang-orang bodoh dan serakah ?
Berhati busuk !
Berjiwa pengecut ?
Atau mungkin, benar ini adalah sebuah dosa turunan
warisan dari nenek moyang ?
Atau juga, ini yang disebut sebuah kutukan Tuhan ?
Atau mungkin juga, ini pertanda kawan !
Tuhan, seisi Alam-Nya
Telah murka tentang kerakusan
Entahlah,
Aku tak mengerti
Memang aku tak mau mengerti
Tapi akan kucoba sedikit memahami
Terserahlah !
Ya,
Ini cerita singkatku
Tentang salah satu
Sisi ngerinya negeriku
Sayang,
Negeriku negeri yang malang
Negeri yang diambang gamang
Kerap dicaci, juga dimaki
Terkadang sedikit dipuji
Sesama penghuni-penghuninya sendiri
Namun,
Walaupun begitu
Aku sangat cinta negeri ini
Aku sangat sayang negeri ini
Aku teramat mencintai, menyanyangi negeri ini
Sebab disinilah,
Tanah aku berpijak
Disinilah tanah aku berlatih dan bergerak
Disinilah tanah aku tertatih
Merangkak belajar untuk jalan dan berlari
Sebab disinilah,
Tanah air tempat aku lahir
Tanah aku tumbuh dibesarkan
Ya,
Disinilah di Negeriku
I N D O N E S I A . . . ! ! !
•Untuk Kita Renungkan•
Karya/Penulis:
Teuku M. Hersa Angga Nyovonsa
Pengurus Pusat FBI (Fans Berat Iwan Fals) Indonesia
Cakung, Jakarta - Timur
Facebook: Hersa Angga II
Tentang sebuah negeri yang penuh intrik
Tentang sebuah negeri yang kini tak lagi asik
Tentang sebuah negeri yang kini sudah tak lagi cantik
Ya,
Tentang sebuah kisah negeriku
Yang kini sudah tak lagi seksi dan menarik
Negeriku,
Kini mulai gelisah
Juga resah terasa mulai gerah
Negeriku tak lagi sejuk
Hutan-hutanku kini merah tak lagi basah
Pohon-pohonku telah banyak punah
Udaraku tercemar tak lagi ramah
Alamku kini gemar muntah tak lagi segan untuk marah
Negeriku,
Sudah tak lagi nyaman
Tak lagi tentram
Bak damai alamnya desa
Ketika datang sunyinya malam
Negeriku,
Sudah tak lagi indah
Tak lagi cerah
Layaknya alami panorama di bukit pelangi
Negeriku,
Kini kerap menjerit
Mungkin kumatnya penyakit
Terasa semakin membelit
Penyakit-penyakit terus meradang
Tak bosan menyerang kian membelit
Penyakit tradisi
Aku sebut penyakit ini adalah munafik
Yang kian mengikat terus saja melilit
Terkurung dalam keterpurukan
Masanya-masanya yang teramat sulit untuk bisa bangkit
Keadaan-keadaannya mengkhawatirkan
Keadaan-keadaannya menyedihkan
Penyakit yang diturun-temurunkan
Meluntakan jutaan jiwa-jiwa kaum jelata
Penyakit bedebah yang semakin mewabah
Semakin hari semakin serakah
Terlena kekuasaan memabukkan
Terbuai keasyikan
Mengejar nyanyian ribuan setan
Mereka benar
Bangsat !
Keparat !
Seakan tak pernah berbuat
Bahkan sedikit pun tak mau melihat
Sakitnya luka yang kian me nga-nga
Masih tercium nyengat aroma amisnya nanah
Serapah !
Haram jadah !
Semakin hari kian berkarat
Hilang arah dan tujuannya
Terlunta jiwanya, terlunta raganya
Terkapar tidak berdaya
Ingin bangkit, berontak untuk protes ketidakadilan ?
Hanya sebuah ke-sia-sia-an
Suara mereka tak pernah didengar
Namun,
Aku mendengar kawan
Aku mendengar jeritannya
Jeritan yang hingar menggelegar
Melebihi ganas bak halilintar
Panas menyambar
Aku mendengar kawan
Dengus nafasnya
Menikam begitu dalam
Datang menghujam nurani
Aku tak kuat kawan
Aku tak kuat mendengar jeritan-jeritan itu
Dengusan nafas-nafasnya
Jelas menyengat aroma penderitan
Sungguh,
Lagi-lagi aku tak kuat kawan
Aku tak kuat mendengarnya
Aku tak mau lagi mendengarnya
Apa benar, nurani tuan-tuan di ngeri ini kini sudah mati ?
Apakah benar, wakil-wakil rakyatnya
Sudah tidak ada lagi yang mengutamakan,
Tentang keadilan dan kebenaran untuk rakyat-rakyatnya ?
Apa mungkin benar, penguasa-penguasanya telah dibutakan harta, tahta juga wanita ?
Sehingga, tidak ada lagi yang perduli tentang ter-rampasnya hak-hak kaum kecil yang tertindas ?
Atau mungkin benar, negeri ini hanya menghasilkan orang-orang bodoh dan serakah ?
Berhati busuk !
Berjiwa pengecut ?
Atau mungkin, benar ini adalah sebuah dosa turunan
warisan dari nenek moyang ?
Atau juga, ini yang disebut sebuah kutukan Tuhan ?
Atau mungkin juga, ini pertanda kawan !
Tuhan, seisi Alam-Nya
Telah murka tentang kerakusan
Entahlah,
Aku tak mengerti
Memang aku tak mau mengerti
Tapi akan kucoba sedikit memahami
Terserahlah !
Ya,
Ini cerita singkatku
Tentang salah satu
Sisi ngerinya negeriku
Sayang,
Negeriku negeri yang malang
Negeri yang diambang gamang
Kerap dicaci, juga dimaki
Terkadang sedikit dipuji
Sesama penghuni-penghuninya sendiri
Namun,
Walaupun begitu
Aku sangat cinta negeri ini
Aku sangat sayang negeri ini
Aku teramat mencintai, menyanyangi negeri ini
Sebab disinilah,
Tanah aku berpijak
Disinilah tanah aku berlatih dan bergerak
Disinilah tanah aku tertatih
Merangkak belajar untuk jalan dan berlari
Sebab disinilah,
Tanah air tempat aku lahir
Tanah aku tumbuh dibesarkan
Ya,
Disinilah di Negeriku
I N D O N E S I A . . . ! ! !
•Untuk Kita Renungkan•
Karya/Penulis:
Teuku M. Hersa Angga Nyovonsa
Pengurus Pusat FBI (Fans Berat Iwan Fals) Indonesia
Cakung, Jakarta - Timur
Facebook: Hersa Angga II
Kamis, 28 Juli 2011
Ikrar FBI ( Fans Berat Iwan Fals)
Kami FBI (Fans Berat Iwan Fals) akan selalu menjaga dan menjunjung tinggi kedaulatan tanah Ibu Pertiwi
Kami FBI (Fans Berat Iwan Fals) akan selalu menjaga nama baik Sang Maestro yang telah lama menjadi panutan kami
Kami FBI (Fans Berat Iwan Fals) yang cinta damai dan bersatu tanpa onar anarki
Kami FBI (Fans Berat Iwan Fals) siap mati demi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan siap mati demi menghapus citra Indonesia korupsi
Dan kami FBI (Fans Berat Iwan Fals) berjanji tidak akan pernah mencari musuh tetapi kami tidak akan pernah lari bila musuh menghampiri
Kami FBI (Fans Berat Iwan Fals) akan selalu menjaga nama baik Sang Maestro yang telah lama menjadi panutan kami
Kami FBI (Fans Berat Iwan Fals) yang cinta damai dan bersatu tanpa onar anarki
Kami FBI (Fans Berat Iwan Fals) siap mati demi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan siap mati demi menghapus citra Indonesia korupsi
Dan kami FBI (Fans Berat Iwan Fals) berjanji tidak akan pernah mencari musuh tetapi kami tidak akan pernah lari bila musuh menghampiri
Langganan:
Postingan (Atom)

